(narasumber : Indonesia Finance Today - ditulis oleh Aria Wiratma Yudhistira dan Viesta Karwila Wingtyas)

Setiap menjelang Tahun Baru Imlek, salah satu kesenian Tionghoa yang kerap menyemarakkan suasana adalah tarian singa atau yang di Indonesia disebut Barongsai. Sebutan barongsai merupakan khas Indonesia, karena di negeri asalnya China, tarian singa disebut shi wu. Dalam bahasa Mandarin, shi artinya singa, sedangkan wu berarti tarian. Sementara di dunia internasional lebih akrab dengan sebutan lion dance.

Tidak ada penjelasan kenapa di Indonesia disebut barongsai, tetapi sebutan tersebut menunjukkan nuansa lokal, karena di Bali kita juga mengenal tarian barong. Keduanya pun memiliki kemiripan karena ditarikan oleh sekurangnya dua orang dan menggunakan topeng kepala binatang. Barongsai terdiri dari dua kata, yakni kata dalam bahasa Indonesia barong yang berarti tarian topeng dan sai, kata dalam dialek Hokkian yang berarti singa.

Adi Kristina Wulandari, staf pengajar Sastra China Universitas Indonesia mengatakan, ada beragam cerita mengenai asal usul kesenian barongsai. Kesenian tersebut lahir berbarengan dengan tradisi perayaan Tahun Baru Imlek dengan berbagai mitosnya. Menurut salah satu legenda, di daratan China pernah hidup sebuah makhluk buas bernama Nian yang tinggal di dasar laut sepanjang tahun.

Namun, setiap malam tahun baru makhluk itu naik ke daratan untuk memangsa hewan ternak, membunuh manusia, dan menghancurkan desa-desa. Makhluk buas itu ternyata takut dengan binatang singa berwarna merah dan bunyi-bunyian yang keras. Sejak itulah setiap menjelang Imlek, penduduk desa tersebut menarikan tarian singa berwarna merah untuk mengusir Nian dari desanya. Makanya salah satu ucapan pada perayaan Imlek adalah Guo Nian Hao (selamat tahun baru).

Meskipun berasal dari tradisi agama Konghucu, perayaan Imlek dan tarian barongsai juga dilakukan oleh penganut agama lain. Keduanya merupakan identitas kebudayaan China sebagai sarana bersilaturami, meskipun latar belakang keluarganya bukan Konghucu. “Kalau merasa orang China, siapa saja bisa merayakan Imlek,” kata Kristina.

Bagi masyarakat Tionghoa, tarian barongsai dipercaya sebagai penolak bala dan pembawa keberuntungan. Bukan cuma perayaan Imlek, tarian barongsai juga dipentaskan dalam setiap pembukaan toko, restoran, atau acara ulang tahun. Penanggapnya berharap pementasan tarian tersebut bisa membawa berkah keberuntungan dan menyingkirkan kesusahan serta marabahaya.

Seni pertunjukan dari China ini lahir saat Dinasti Han berkuasa, sekitar tahun 2000 SM. Kuda-kuda, salah satu gerakan pokok barongsai. Kedua kaki ditekuk setengah dan digunakan sebagai penumpu badan. Baik pemain depan (memainkan kepala) maupun pemain belakang (memainkan ekor), kuda-kuda tetap menjadi latihan dasar.

“Kuda-kuda dalam bahasa Mandarin disebut mapo. Adapula gerakan wushu seperti pada bela diri kungfu yang dipelajari dalam permainan barongsai,” seru Suryo Djajadi, Ketua Umum DCK Lion Dance.

Dia juga menuturkan bermain barongsai sama dengan olahraga dan juga menari. Tidak hanya kuat fisik, tetapi harus konsentrasi dengan perhitungan aksi yang diperagakan agar pemain tidak cedera. Sebagai sebuah tarian, barongsai juga memerhatikan keindahan dan layak dipandang.

Selain pemain barong, dalam satu tim barongsai juga ada pemain musik. Satu tim yang berjumlah 8 orang, terdiri dari dua pemegang barong, satu memainkan tambur, satu memainkan gong, dan empat orang memainkan simbal. Saat tampil di lapangan cukup luas, DCK Lion Dance akan menurunkan 3 – 5 barong dengan komposisi pemain musik tetap enam orang. Suara tambur yang berpadu dengan simbal akan mengiringi permainan barong-barong di lapangan.

Sementara itu menurut Teguh Wang, pengurus perkumpulan barongsai Bio Hok Tek Tjeng Sin, tarian barongsai memiliki banyak perlambangan. Setiap warna memiliki pemaknaan tertentu, seperti hijau untuk mengusir makhluk pembawa sial, hitam jika makhluk tersebut tetap bandel tidak mau pergi, kemudian merah sebagai perlambang kebahagiaan, dan kuning yang dipercaya membawa kebahagiaan. “Kebudayaan kita memiliki banyak simbol. Beda warna beda makna,” kata lelaki yang menulis tesis tentang marketing dalam kesenian barongsai.

Walaupun bukan bagian dari kegiatan ritual, bagi sejumlah orang Tionghoa, tarian barongsai merupakan sesuatu yang disakralkan. Menurut mitosnya, barongsai merupakan kendaraan para dewa. Teguh menyayangkan saat ini banyak perkumpulan yang tidak memahami nilai sakral tersebut. “Sekarang banyak barongsai ngamen yang cuma cari duit saja. Padahal kita sudah latihan capek-capek untuk jaga tradisi.”.

Selain untuk ngamen, Teguh juga menyesalkan pengusaha yang memanfaatkan barongsai sebagai robot mainan untuk ditunggangi anak-anak di mal-mal. Dia mengaku marah dengan hal ini karena dianggap sebagai penghinaan. “Kita menghormati budaya ini, karena barongsai kan bukan binatang. Bisa dipertunjukkan tapi jangan dijadikan robot,” tuturnya.

Nuansa Politik

Tarian barongsai sejatinya merupakan salah satu bentuk kesenian masyarakat Tiong Hoa. Namun dalam perkembangannya kesenian tersebut pun tidak bisa dihindari dipakai sebagai alat politik.

Nuansa politis dalam tarian barongsai memang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan politik Indonesia. Tarian barongsai diperkirakan masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke-16 oleh para imigran China. Barongsai mengalami masa keemasannya pada awal abad ke-20 seiring mulai tumbuhnya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan (THHK), yaitu perkumpulan warga keturunan Tiong Hoa. Setiap perkumpulan THHK bisa dipastikan memiliki sebuah perkumpulan barongsai sebagai simbol identitas masyarakat Tiong Hoa di tengah masyarakat kolonial.

Begitu pemerintahan Soeharto tumbang, oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Instruksi Presiden No 14/1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China. Segala bentuk kebudayaan Tiong Hoa dibebaskan untuk dirayakan dan dipentaskan. Tahun baru Imlek dijadikan sebagai hari libur fakultatif dan tarian barongsai pun dikenal masyarakat.

Keputusan Gus Dur tersebut merupakan berkah bagi perkembangan barongsai. Anak-anak muda, tidak hanya etnis Tiong Hoa, banyak yang menggemari tarian barongsai. Di perkumpulan Bio Hok Tek Tjeng Sin, anak usia delapan tahun sudah boleh bergabung untuk berlatih tanpa dikenakan biaya. Anak-anak muda inilah yang mempertahankan dan mengembangkan tarian barongsai. “Jadi kalau mau bertanya tentang barongsai justru kepada anak-anak muda, bukan kepada generasi orang tua yang tidak pernah main barongsai.”

Artikel ini dikutip dari sumber aslinya http://www.indonesiafinancetoday.com/read/2697/Swift-Luck-in-Lion-Dance Wednesday, 02 02 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Quick Contact

Send email to : dckliondance@gmail.com

Address:

Jl. Kelapa Lilin 2,Gading serpong, Banten, Indonesia